Langsung ke konten utama

untuk dianggap dewasa jadilah dewasa

Sekaranng adalah bulan ramadhan, dan sayang banget setelah sekian lama ingin menuliskan banyak hal yang penulisanya sudah ada dikepala namun berkali- kali menjadi sia- sia karena tak pernah dituangkan menjadi sebuah tulisan. Dan sekarang kupaksakan untuk menuliskanya.

Sejak awal masuk kuliah memang sudah diniatkan untuk aktif diorganisasi. Alasanya selain untuk memanfaatkan waktu agar tak terlalu sering muncul rasa rindu dengan orang tua juga untuk meningkatkan soft skill dan mencari banyak pengalaman hidup. Kenapa sampai benar- benar diniatkan untuk ikut organisasi saat kuliah? Karena dulu saat masih SMP dan SMA andil orang tua dalam kehidupan pribadi masih sangat besar, jadi dilarang untuk mengikuti hal- hal yang “melelahkan” kata mereka. Dan aku bersyukur artinya mereka mencintaiku dengan caranya. Saat masuk kuliah, orangtuaku sudah menganggapku sebagai anak yang sudah mulai dewasa, cara mereka memperlakukanku sudah berbeda. Berbeda dengan artian, kadar kepercayaan mereka dengan anaknya bertambah terhadap hal- hal yang aku pilih. Sebenarnya dari kecilpun orang tuaku sangat percaya dengan anak- anaknya, tidak terlalu mendekte dengan kepercayaan itu kami selalu berusaha jujur kepada mereka. Jadi secara tidak langsung dari kepercayaan yang mereka berikan kepada kami maka kami, anak- anaknya menghadiahi kepercayaan mereka dengan kejujuran untuk menjaga kepercayaan itu. Dan kadar kepercayaan atas pilihan anaknya semakin bertambah seiring bertambahnya usia kami. Aku merasakanya saat mulai masuk bangku perkuliahan, organisasi yang aku pilih mereka merestuinya walau masih ada rasa khawatir. Terdengar dari beratnya suara mereka walau mengiyakan.

Saat itu aku memilih dua organisasi yaitu lembaga dakwah dan lembaga pers. Ketika dulu ditanya oleh pak lek “ikut organisasi mahasiswa apa?” sedikit ragu menjawab karena feeling akan ada kehawatiran dari beliau, “lembaga dakwah sama lembaga pers.” Dan tebakanku benar “gak usah ikut organisasi keagamaan yang aneh- aneh, dunia perkuliahan itu gak bisa ditebak. Bisa- bisa keseret sama aliran- aliran gak jelas” dari jawaban beliau ada dua hal yang aku syukuri, yang pertama beliau menghkawatirkan keponakanya artinya beliau perduli, yang kedua ibuku tidak mendengarnya, artinya tidak ada kemungkinan untuk ibu ikut- ikut melarang haha.

Sampai beberapa bulan awal pekuliahan masih ada perasaan melegakan, bahwa akhirnya bisa ikut organisasi, bisa bergaul dengan lebih banyak orang, bisa bertemu lebih banyak kesempatan tak terduga dan aku masih menikmati itu walau disisi lain ada banyak hal yang terjadi. Hingga akhirnya bertemu disuatu titik dimana harus memilih, bukan karena bosan dengan organisasinya namun ada hal seperti hubungan hamba dan tuhanya tidak bisa dipaksakan oleh kepalsuan dihadapan hamba lainya yang dipetakan dalam organisasi. Saat itulah pikiran dan hati saling beradu, ingin bertahan namun harus amat sangat mampu berjuang karena diriku yang berbeda, diriku yang baru, dan diriku yang tak tau apa- apa ini sampai memutuskan untuk berhenti saja dan menyisakan satu untuk bertahan dan memberikan seluruh loyalitasku ke satu organisasi yang masih kupertahankan. Lucunya untuk urusan memilih apakah aku harus benar- benar pergi atau bertahan, ku ceritakan kepada ibuku karena ada beberapa hal yang kuanggap aku mampu menyelesaikanya sendiri, dan dalam segala keputusan yang akan aku ambil jawabanya akan selalu sama “terserah kamu, jadi mau gimana sekarang? kemana tempat yang bisa bikin kamu bahagia?”

Setiap orang tua memiliki cara khas mereka untuk mendidik anak- anaknya. Melarang bukan berarti mengekang, mereka hanya khawatir dan mengertilah jika kehawatiran itu kadang berlebihan. Meminta sesuatu bukan berarti mengharuskan dan bukan berarti egois mungkin saja itu yang menurut mereka baik bagi kalian. Dan hanya itu yang mereka ketahui untuk membantu membahagiakan kalian. Jadi mengertilah mereka, jika sesuatu yang mereka harapkan berbeda dengan keinginan kita beri mereka pengertian, jelaskan dengan segala resiko dan kebaikan yang akan kalian dapat. Untuk dianggap dewasa maka jadilah dewasa dihadapan mereka. Aku telah merasakanya, orang tuaku sepertinya tau situasi kapan aku perlu dianggap sebagai anak kecil dan kapan waktunya untuk dianggap dewasa. Ketika dulu semua permasalahan yang hanya perlu diketahui orang dewasa, orang tua tidak akan pernah membagikan permasalahnya kepada anaknya dan ketika sekarang anaknya sudah dianggap dewasa mereka menjadikan anaknya tempat untuk bercerita. Ada saatnya seorang anak hanya perlu tau bahagia dan ada saatnya anak menjadi sahabat untuk meringankan beban, walau hanya sekedar mendengarkan cerita karena mereka tidak berharap anaknya ikut terbebani.



-Tempat- tempat mana yang aku pilih adalah yang membuatku bahagia-

Tempat bisa berarti lingkungan, organisasi, jurusan kuliah, teman, pekerjaan dll. , bahagia yang kumasksud bukan kebahagiaan semu, harus ada pemikiran panjang didalamnya karena kebahagiaan yang aku cari bukan kebahagiaan yang sama yang diartikan oleh manusia- manusia hedon. Karena kadang untuk bahagia harus terjatuh karena berjuang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Semu

Telah kurangkai sepenggal kisah, tak tau apakah itu tentang penggalan cerita hidup atau sepenuhnya khayalanku. Kubuat cerita tentang indahnya pertemuan, kurangkai dengan diksi yang menghanyutkan. Kuikuti isi hati dari lamunan yang menciptakan perjalanan semu, dalam kisah fiktif yang tertulis untuk menenangkan dan melepaskan kegundahan hati. Kegundahan karena dipenuhi dengan angan, angan yang dirangkai dengan imaji dan tak pernah tau berujung kenyataan atau hanya bagian dari cara untuk menikmati sendiri. Hampir- hampir kumulai kisah itu, sudah kutetapkan sang pemeran utama, kugambarkan dia seolah dia nyata, bahkan telah terpikir olehku bagaimana akhir dari kisah semu itu. Bahkan sebenarnya tak hanya sebait yang telah kurangkaikan untuk fiksi yang belum kuberi judul itu. Dari cerita rekaan itu, kuandaikan hidupku. Dan akhirnya aku sadar akan siapa diriku, tak lebih dari seorang hamba yang bergantung pada Tuhanya. Kurangkai kehidupan yang kuinginkan tapi Allah berikan kisah yang ...

Hai (lagi)

Mengengok kembali ruang pribadiku yang sengaja kubangun untuk menampung keluhku. Kudatangi lagi ruang peribadiku yang telah lama tak pernah kujamah lagi. Aku yang rindu untuk kembali kepadamu. Aku yang rindu, untuk berbagi kepadamu. Tengah malam ini setelah membaca roman picisan ruang pribadi manusia lain, aku teringat akan ruangku. Tempatku menjelaskan diriku kepada dunia tanpa malu karena ku tahu, aku bukan yang orang lain inginkan, diriku tak perlu mereka tahu. Nyamanku karena dapat mengumbar pada dunia tentangku, tanpa satupun yang tau. Hai... telah lama, hampir dua tahun aku tak berbagi. Malam ini aku datang lagi, aku baca ceritaku dan aku rindu memenuhimu. Hai... maaf, aku datang dikala kecewa, aku datang dikala tidak bahagia, aku datang dikala diriku penuh dengan kegundahan dengan fikiran gila. Aku berusaha, aku akan datang membuat cerita bahagia dan berani membagikanya pada dunia dan biarkan semua orang mengetahuinya. Maafkan jika beberapa tulisanku terlihat menyed...