Hilang rasa ini, hilang ketika kamu tidak meyirami bungaku. Tak lagi berkembang ketika kamu membuatnya layu. Namun berbeda dulu, mekar bunga ini mekar. Mekar merekah laksana mawar merah, merona karena curahan kasih yang kamu beri. Subur dan kuat karena setiap hari kamu sirami. Mungkin seperti ini rasaku padamu dulu. Hilang, lupa, dan hambar jika mendengar namamu untuk sekarang. Kamu yang dulu laksana air segar bagi bunga ini, kini menyirami bunga lain karena bejana itu tergerak oleh tangan- tangan untuk menyiram bunga lain. Biasa saja tanpa amarah, karena aku tahu jalan cerita itu, tahu bunga baru itu dan tau tangan tangan penggerakmu. Namun, semudah itu kamu mengikuti tangan- tangan itu, atau mungkin itu memang sifatmu? Air yang mengalir mengikuti arus, menyirami yang mana saja. Rasaku sudah berubah, tak lagi gundah mendengar bunga baru yang merekah karenamu. Bunga baru itu berbicara padaku, tawa palsu menyeruak menutupi cerita dulu membahagiakan bunga baru. Bunga baru itu yang meminta segarnya siramanmu ketika kau sibuk menyirami bungaku, bunga baru itu yang meminta tangan- tangan untuk menggerakanmu ketika kamu masih bertahan pada bungaku. Mereka berhasil, bunga baru itu dan tangan- tangan itu membuatmu mengalir meninggalkan bungaku. Dan asal kamu tahu, bunga barumu tak lagi menginginkanmu dan tangan- tangan penggerakmu sudah lama melepaskanmu. Kini aliranmu mengikuti arus yang telah mereka buat. Mereka berhasil namun bunga baru itu tak lagi menginginkamu. Aku ingin tahu airku, apa maksud gemercikmu. Mengapa gemercikmu seakan mengisyaratkan kamu masih berusaha menyirami bungaku. Apa maksud gemercikmu yang menceritakan merekahnya bungaku tapi kamu airku tetap mencari bunga baru itu. Kemana muaramu sebenarnya? Kamu dulu airku, sekarang bungaku layu dan bunga baru itu temanku merekah mencari air tapi bukan kamu. Mengertilah air, kamu bisa pecahkan batu tapi tak seharusnya bungaku layu. Namun tenang air, aku bukan lagi mawar merah namun tulip putih yang menunggu air dari hulu yang baru, dari bejana emas tanpa tangan penggerak menyirami tanpa rasa semu, karena tulip putih ini menginginkan aliran yang pasti. Aliran deras atau kering sama sekali.
Hilang rasa ini, hilang ketika kamu tidak meyirami bungaku. Tak lagi berkembang ketika kamu membuatnya layu. Namun berbeda dulu, mekar bunga ini mekar. Mekar merekah laksana mawar merah, merona karena curahan kasih yang kamu beri. Subur dan kuat karena setiap hari kamu sirami. Mungkin seperti ini rasaku padamu dulu. Hilang, lupa, dan hambar jika mendengar namamu untuk sekarang. Kamu yang dulu laksana air segar bagi bunga ini, kini menyirami bunga lain karena bejana itu tergerak oleh tangan- tangan untuk menyiram bunga lain. Biasa saja tanpa amarah, karena aku tahu jalan cerita itu, tahu bunga baru itu dan tau tangan tangan penggerakmu. Namun, semudah itu kamu mengikuti tangan- tangan itu, atau mungkin itu memang sifatmu? Air yang mengalir mengikuti arus, menyirami yang mana saja. Rasaku sudah berubah, tak lagi gundah mendengar bunga baru yang merekah karenamu. Bunga baru itu berbicara padaku, tawa palsu menyeruak menutupi cerita dulu membahagiakan bunga baru. Bunga baru itu yang meminta segarnya siramanmu ketika kau sibuk menyirami bungaku, bunga baru itu yang meminta tangan- tangan untuk menggerakanmu ketika kamu masih bertahan pada bungaku. Mereka berhasil, bunga baru itu dan tangan- tangan itu membuatmu mengalir meninggalkan bungaku. Dan asal kamu tahu, bunga barumu tak lagi menginginkanmu dan tangan- tangan penggerakmu sudah lama melepaskanmu. Kini aliranmu mengikuti arus yang telah mereka buat. Mereka berhasil namun bunga baru itu tak lagi menginginkamu. Aku ingin tahu airku, apa maksud gemercikmu. Mengapa gemercikmu seakan mengisyaratkan kamu masih berusaha menyirami bungaku. Apa maksud gemercikmu yang menceritakan merekahnya bungaku tapi kamu airku tetap mencari bunga baru itu. Kemana muaramu sebenarnya? Kamu dulu airku, sekarang bungaku layu dan bunga baru itu temanku merekah mencari air tapi bukan kamu. Mengertilah air, kamu bisa pecahkan batu tapi tak seharusnya bungaku layu. Namun tenang air, aku bukan lagi mawar merah namun tulip putih yang menunggu air dari hulu yang baru, dari bejana emas tanpa tangan penggerak menyirami tanpa rasa semu, karena tulip putih ini menginginkan aliran yang pasti. Aliran deras atau kering sama sekali.

Komentar
Posting Komentar